Tuesday, February 24, 2004

Bahaya Gigitan Kampret
: guys!

Kampret dapat menyebarkan kegembiraan
Kegilaan
kemudian ketagihan!

(BuRuLi, LeBul: 23.02.2004)



Episode Yang Sudah Selesai
: Casper 2001

Pernah engkau temukan aku dalam sebuah keranjang sayuran. Bersama tomat, kelapa, wortel dan bayam. Katamu:

“ Perempuan! Berenanglah engkau dalam santan. Untuk sarapan pagi. Atau ganjal perut dini hari.”

Aku tertawa. O, ya? Apa kau akan suka? Tidak percaya! Kupikir akan percuma saja.

Kau diam. Kelelahan. Ingatanmu melayang pada ayam dan daging untuk rendang. Kau hampir lupa membelinya.

(BuRuLi, LeBul: 23.02.2004)



Monday, February 23, 2004

Aku dan Tuhan

Aku dan Tuhan. Diam-diam berkenalan. Ia memanggilku. Aku mendengarnya. Suaranya lucu. Aku tertawa. Ia gembira.

Ia melambai. Aku melambai. Ia mengangguk. Aku mengangguk. Tuhanku mengedipkan mata. Aku tidak bisa. Aku kembali tertawa. Ia bahagia.

Tuhanku melirik. Tanganku ditarik. Sini! Katanya. Kesini lebih dekat lagi kalau kau ingin Kuajari. Aku menegang! Kupingku jadi panjang. Sebab aku sering tidak mendengarkan.

Aku dan Tuhan berpandangan. Itulah! Kata-Nya! kau rugi sendiri, karena tak juga mengerti!

Aku dan Tuhan bersebelahan. Aku diam. Dia tidak. Masih dibisikkan-Nya kepadaku. Ke dalam telingaku. Sesuatu. Masuk ke hatiku. Nyungsep disitu. Katanya:

"Sudahlah. Aku selalu ada. Kau tau kan Aku dimana?"

Ah. Aku jadi malu. Tuhan bilang seperti itu.

(BuRuLi, LeBul: 22.02.2004)
Aku dan Piglet
: rww

Lalu kitapun tertawa. Ngakak. Perut jadi kaku. Luka terasa lucu. Sebab cerita kita mengalir. Begitu saja. Kita liarkan meraka. Ceburkan ke dalam kolam. Biar jadi santapan ikan!

“Aku” katamu, “Aku adalah piglet… dan kau adalah Pooh. Di kepalamu yang bebal ceritaku jadi membal.”

Ha ha ha!

Aku tertawa. Kau tertawa. Ngakak. Sampai suara kita terdengar serak. Mata kita segaris, bibir kita meringis. “ Kau” katamu, “Kau adalah Pooh…Beruang madu itu… Maka tampunglah ceritaku! Biarkan melebah! Biarkan mewabah! Biarkan saja!”

Lalu kitapun tertawa. Sambil menyusut airmata.

(BuRuLi, LeBul: 22.02.2004)




Titip Surat Lewat Randu! Surat Buat Para Hantu!
:kalian!

Ndu!
Dadaku ngilu.
Rindu kerumunan hantu.
Rindu cerita-cerita itu.
Rindu kau.
Gilamu.
Perempuan yang kebakaran selalu.
Sajakmu.
Lagumu.
Gitar maut itu.

Jazz di malam hari.
Cecil Mariani.

Duh!
Aku rindu rukuku Paman Idamku.
Arwan dan pijatan mujarabnya.
Agung dan celotehan parahnya.

Rindu Mas Pinang dan dongeng malamnya, Ompit dan petualangannya, Ninus lucu dan Yulie Si Pemalu.

Dimana Nanang?
Diamana Aang?
Dimana Sam, Mbak Nonny Indah dan semuanya?
Dimas dan semua lagu yang tak juga ketemu nadanya?

Aku rindu Mahdi, yang menginap semalam dan demam tinggi. Bleem yang tak berhenti menasihati. Thanding Sari yang tak pernah mati. Onoy dan Momoy yang pernah mampir pada suatu hari…

Paman Njibs, Visnu dan tentang catatan sekilas waktu.

Aku rindu malam-malam itu.
Pembacaan-pembacaan puisi itu
Bang Saut dan puisi jembut
Sihar yang gahar
Katrin yang besar

Aku rindu, Randu!
Rindu sampai ngilu
Suasana Rumah Hantu…

· Hampir lupa satu nama: Qizink la Aziva!

(BuRuLi, LeBul: 22.02.2004)


Sunday, February 22, 2004

Riangkan Hatimu Sejenak, Diriku Sayang!

Maka pejamkanlah matamu, diriku sayang. Sebutkan Tuhan dalam dadamu yang hampa.

"Tuhan!"

Sebutkan saja namanya!

Ia akan mengerti.
Ia selalu mengerti.
Bahasamu.
Bahasa bisu jiwamu.

Basahi dada-Nya!
Basahi dada-Nya!

(Ia datang, menepuk pundakmu, memelukmu. Diam. Diam membawamu kepada-Nya. Tenang. Demikianlah. Asal kau percaya)

(BuRuLi, LeBul:21.02.2004)

Thursday, February 19, 2004

Mari balajar berpikir positip.
Positip tapi sakit.
Positip tapi luka.

Pasti ada makna dalam semua peristiwa, kan?

-Hueks!-


*Sungguh susah bicara dengan orang dewasa...
-pangeran kecil-
YUP!

Aku nggak akan nangis, kok!
Nggak sekarang.
Nggak! Nggak! Nggak!
Nggak buatmu nggak buatku.
Nggak hari ini.
Setidaknya bukan sekarang.
Nggak disini dan nggak hari ini!
Nggak lah.

Lebih baik memikirkan kemungkinan menanam benih kelapa sawit di bulan. Lumayan, kan?

Ha ha.

Hiks.

(Padahal aku sampai nggak bisa ngebedain lagi mana iler mana airmata basi. Baunya sama. Bentuknya sama. Sama-sama bikin busuk bantal kita. )

Hiks.

Ha! Ha!

(Flai mi tu de mun… ame bejo ame mumun…)

(BuRuLi, LeBul: 19.02.2004)



Sebagai kaca meretak jiwa
: MIS

Berusaha memahamimu.
Diam aku memeluk lukaku.
Sendiri.

Akulah perempuan bodoh itu.
Mengaca pada batu.
Mencintai seonggok ragu.

Diam.
Diamkanlah aku.
Supaya aku tak lupa nikmatnya hening.
Supaya aku tak takut kembali membening.

Cair!
Cairlah engkau hati membeku.
Kembalilah jadi embun.
Memerciklah engkau seperti dulu.

Ya.
Diamkanlah aku.
Supaya aku ingat bersyukur.
Bahwa pernah diberi umur.

" Yang sebentar itu.
Bersamamu"

(Menangis. Menatap langit. Diantara yang berjuta itu aku adalah satu. Tapi dia adalah kejora. Dan aku bukan apa-apa.)

(BuRuLi, LeBul: 18.02.2004)

Tuesday, February 17, 2004

Foto Mantanmu

Foto mantanmu nyengir. Ramah kepadaku. Aku serba salah. Mau marah atau tidak? Mau marah gengsi. Dia datang pertamakali. Aku adalah tamu. Bagitulah aku di dadamu.

Foto mantanmu matanya tajam. Mau apa kau dengan dia?! Begitu kira-kira pertanyaannya. Aku harus menjawab apa?. Mau mancoba kemungkinan. Bagi diriku sendiri. Setelah dia gagal denganmu? WAKS!

G I L A !

Pasti. Aku sudah gila. Duduk manis disini. Bersama foto mantanmu. Bercakap-cakap tentangmu. Membayangkan berbagai kemungkinan. Seandainya dia masih bersamamu. Lalu?

Foto mantanmu nyengir. Ramah kepadaku. Matanya bening. Bening bercerita. Tentang telaga. Yang dulu di arunginya. Berdua. Denganmu.

Foto mantanmu nyengir. Ramah kepadaku. Matanya bening. Mataku dingin. Basah disitu.

-BuRuLi, LeBul: 17. 02. 2004-


SAKIT

Kenyataannya aku harus belajar berdamai dengan noda darah pada kain tempat aku mulai lagi belajar menyulam.

Seperti tempe yang menggantikan keju pada lipatan keping rotimu. Enak. Tapi bukan pilihan pertama.

Aku ini seperti jagung kepada padi. Kau akan selalu membutuhkan nasi, bukan? Laparmu takkan pernah terpenuhi.

Olehku.

-BuRuLi, LeBul: 17.02.2004-

Monday, February 09, 2004

Apa Maksudmu, Perahu Kayu ?!


Apa kau siap berlayar?

Kau melambai menawarkan kamar. Menawarkan mimpi. Menawarkan cerita musim semi dan selimut hangat di malam hari.

Apa kau siap berlayar?

Kau tidak lengkap. Alat Navigasimu kacau. Kau bahkan tak punya kompas. Arahmu tak jelas. Dalam pelayaran percobaan kemarin aku ketakutan. Hendak kemana kita?

Aku sempat diam. Diam memikirkanmu. Sebuah kamar demikian merayu. Aku lelah. Ingin menitipkan diri. Ingin berbaring. Disini. Disini.

Lalu aku tertidur. Sejenak. Menikmati ayunmu. Nina bobo nan merdu. Aku mimpi indah. Terlalu indah. Sampai pada waktunya. Aku terbangun. Teringat tanya: “ Hendak kemana kita…? “

Apa kau siap berlayar?

(BuRuLi, LeBul: 09 Feb 2004)
Membaca Memang Berbahaya!

Itu benar. Bahwa kita bisa jatuh cinta setengah mati pada figur yang tak kita kenal hanya karena satu kata: MEMBACA

Setelah kita membaca tulisannya, lantas merasakan getar dalam dada.

Sial.
Ha ha.
DENDAM

Ada sebuah bara. Membuatnya jadi tenaga luar biasa. Aku harus bisa! Aku harus bisa!

A k u t a u a k u b i s a !

Tinggal tunggu waktu. Kau lihatlah.

K a u!

L I H A T L A H O L E H M U!

Nanti.
Nanti. Pada suatu hari.

Sunday, February 08, 2004

AKU LELAH!


Aku merasakan lelah.
Lelah sejati.
Lelah berlari maupun berhenti.
YANG TERJADI HARI INI ADALAH

Gumpalan hormon yang mengamuk minta didengarkan. Berusaha mempercayai perasaan yang tak bisa lagi dipercayai. Berusaha memintal agar waktu menjadi sedemikian berarti.

Berusaha bertanggungjawab, memaafkan dan jujur kepada diri sendiri.

Berusaha untuk tidak menyesali.

Berusaha untuk mengerti: Apa Yang Telah Terjadi Hari Ini.

(Kepada diriku sendiri: KAU HARUS LEBIH BANYAK BELAJAR LAGI!)

Wednesday, January 28, 2004

Bulu Ketiak

Bulu ketiak keriting njegrik dari bawah pangkal lenganmu , protes akan ketidak adilan. Kata mereka:

“Kau kira tidak tesiksa berada dibawah kempitan pangkal lengan berat dan berair ini, jadi pangkalan bakteri dan sering dituduh sebagai sumber bau ?”

O, bulu ketiak! Sempat kupikir kaupun pasti merasa iri pada nasib bulu mata, alis apalagi rambut yang sempat merasakan sentuhan tangan-tangan lentik meluruskan ataupun mengikalkan mereka, memotong dan mencabuti kemudian hasilnya buat dipamerkan.

Yap! Belum pernah ada yang memamerkan dengan bangga hasil pencabutan bulu ketiaknya pada masyarakat luas. Dan tidak pernah ada tren model bulu ketiak kecuali saat Samson jadi juara. Bulu ketiak gondrong maha sakti. Cuma milik Samson, bukan?

Bulu ketiak melakukan peregangan, berharap hasilnya akan seindah hasil rambut yang di re-bonding. Tapi alih-alih menjadi lebih lurus malah jadi semakin keriting, merasa stress, dibekap dibawah pangkal lengan penuh keringat. Ah, nasib katanya. Teringat pula pada nasib kawan sesama bulu…

“ Sampai sekarang aku masih memikirkan, apa sih maksud-Nya aku ditumbuhkan disitu? “

Maaf. Tapi aku bukan ahlinya!

(BuRuLi, LeBul: 28.01. 2004)

Monday, January 26, 2004

Bayi Perempuan yang Tak Pernah Diinginkan

Ya. Ibuku bidadari. Matanya tajam seperti elang. Aku tidak. Aku bukan mahluk menakjubkan seperti dia. Aku Cuma bayi perempuan biasa. Iapun malu melahirkan aku.

Bidanku seorang raksasa. Dua taringnya menghujam dunia. Ia tinggi besar dan hitam. Kau akan takut kecuali kau kenali sinar di matanya. Ada matahari hangat terbit disana. Ia basuh mukanya dengan darahku. Darah anak bidadari yang ingin membuang bayinya. Makan saja bayi itu kalau kau mau! Kata ibuku.

Raksasa itu menangis. Ibuku menangis. Dua tangisan yang bersamaan dengan alasan yang sama sekali berbeda. Ibuku mengharapkan seorang pangeran mengoek dari perutnya. Ia benci mendapatkan bayi kecil mirip babi. Demikian kukira ibu bidadari itu mengenangku.

Raksasa itu menangis. Tak seorang jantanpun meminangnya. Tak seorangpun bayi lahir dari rahimnya. Ia menangis. Ada mahluk mungil dihadapannya. Ia tersinggung disangka demikian buas. Seandainya ibu itu bukan bidadari, maka dialah yang akan dibunuhnya!

Aku masih ingat bagaimana rasanya melayang dipangkuan Sang Dewi Raksasa. Bau mulutnya yang khas. Suaranya menggelegarkan kidung cinta. Tidurlah anakku. Puteri Dewi semanis madu. Tidurlah di hangat dadaku…

Mataku basah. Basah oleh airmatanya. Airmata Dewi Raksasa yang perkasa. Ketika bidadari itu pamit hendak terbang pulang, Dewi Raksasa berkata:

“Aku tak akan pernah berterimakasih, atas kudapan segar di genggamku ini. Juga takkan berterima kasih karena telah kau lempari aku segumpal cinta bermata jernih. Makan saja sendiri olehmu kenangan biadab ini. Kau akan kehilangan dia sampai mati! Kau tak suka bayi perempuan? Hanya mereka yang bisa sungguh-sungguh menyelamatkanmu!”

Perempuan tua cantik itu kini terbaring di atas peraduan beledu. Ibu Dewi Raksasa berdiri di depan gapura, setia menungguku. Nak, kata ibu dewi gagahku itu. Jenguklah ia. Ia sudah sengsara terantuk dosa. Bidadari tua gila. Ia tidur disana duabelas tahun lamanya. Sendiri. Sendiri menghitung sepi…

(BuRuLi, LeBul: 26.01.2004)

Sunday, January 25, 2004

The Most Unwanted Baby is Me!

The most unwanted baby is Me!
They put me under the tree, wished a hungry tiger eat me.
You know?
My mom is an angle.
Her eyes just like eagle's.
I am not.
She hates me so.
An ugly baby girl just a nightmare for her.

Yes.
She hates me.
She does.
She is an angel.
Her eyes just like eagle's.

I am not.

(BuRuLi, LeBul: 25.01.2004)

Saturday, January 24, 2004

Dzing!!

Lepaslah engaku, anak panah! Lesatlah engkau mendesing mengangin.
Menancaplah engkau!
Pada pusaran waktu yang kau cintai
lalu jadilah engkau puisi

(BuRuLi, Tarutung: 25.09.2003)


Sajak Buat Beatrice

Engkau matahari
Hangat yang tetap
Pagi yang tak pernah berhenti
Pipit yang bernyanyi
Debur yang tak pernah sunyi

Semoga kau jadikan ini rahasia bintang diantara kita
Kecil dan menyala

(BuRuLi, Medan: Octo 2003)


Catatan Buram Menjelang Pulang
: G

Lalu kutangkap bayangan sedih dalam cermin beningku sendiri
Demikian sepi cahaya mata
Energi yang tak lagi mengalir
Kata yang terhenti

Aku ingin memelukmu! teriakku
Tapi tak ada kekuatan disitu
Memeluk diri sendiri di sudut kamar
Mati membeku
Sekali lagi, tak ada energi disitu!

Aku telah letih, bahkan untuk sekedar belajar mengerti...

(BuRuLi, Medan: 2003)


Pulang!

Mengulang kembali rute kamar, ruang tamu, teras, taksi kemudian bandara.
Boarding, take off, landing, taksi lagi dan... rumah!

Aku pulang!

Rumah, pagar, ruang tamu, garasi, anjingku, bibiku, senyuman, pelukan dan ciuman...


Aku pulang!

Ah!

(BuRuLi, Medan: 10.11.2003)


Sajak Buat Gaby

Gerhana Aku Bersama Engkau
Galau Angan Berjumpa Esok
Gundah Akhir Berujung Entah
Gelisah Angin Berhembus Enggan


(BuRuLi, LeBul: 21 Nov 3003)


Friday, January 23, 2004

NEON SIGN


puisi ini tak seharusnya dituliskan pensil diatas kertas
melainkan dengan neon di atas nyala langit seperti las vegas
benderang dalam pendar pendar gas
di liuk tabung tabung berwarna
untuk segenap kota membaca

lihatlah puisi kita!

yang digores diatas cahaya cahaya neon kota
tentang waktu yang gagal memaksa
tentang kita
yang tak mampu memecah langkah ke arah berbeda
terpaku di sebuah silang
atas nama cinta


Idaman,Arwan,bungarumputliar,Cecil,Sudaryanto,Aglisius
31 maret 2003, 11.34 pm
tepian jalan kemang

Monday, January 19, 2004



Pada Suatu Pagi

Pagi yang sepi
Diam adalah badai
Hatiku berteriak
Sunyi pada telingamu

(BuRuLi, Tarutung: 23.9.2003)
Rumah Singgah

Aku adalah rumah singgah
Tempat kau titipkan luka dan harapan
Sepanjang ingatanku tak jelas lagi bagi kita
Anta tangis, doa dan tawa
Semua teraduk
Antara meja, kursi dan dapur
Lalu kasur

Aku adalah rumah singgah
Tempat kau tumpahkan segala resah, amarah dan darah.
Tempat kau menandai hari
Kemudian pergi.

(BuRuLi, Medan: 21.09.2003)
Hujan Malam

Hujan membelah malam menjadi rindu.
Sebagian lekat di pelupuk mata membayang mengaca.
Lekat asin mengaliri pipi menuju bibir lalu lenyap sebagai bisu.
Hujan malam menggambari bumi dalam sendu.

(BuRuLi, Medan: 20.09.2003)
Mencintaimu Angin

: Mas Par =P~~

Mencintaimu angin
Menikmati datang dan pergimu
Membiarkanmu terus berhembus
Ada rindu yang berputar membadai
Kubiarkan saja ia tetap menjadi

Sampai cinta terdampar entah dimana
Jatuh ke tanah sebagai apa
Tumbuh atau binasa?

Mencintaimu angin
Mendengar derumu

Dingin

(BuRuLi, Medan: Sept. 2003)
Kepak Luka Kupu Muda

Kepak luka sayap kupu terjepit rumpun bambu.
Jeritnya tertiup angin.
Pedih menyerpih tergesek daunnya yang melayu.
Ssst! Ia telah mati!
Desis ular menyanyi.

BuRuLi, Medan : 18.08.03/ 00: 30 WIB

Thursday, January 15, 2004

Sajak Tentang N

N adalah puisi
Puisi itu sendiri
Bersama N penaku melaju
Kata tumpah
Ruah ide menjamur
Merah memenuhi ruang

N adalah rindu
Rindu itu sendiri
Bersama N sunyi adalah indah
Malam adalah kenangan
Hujan adalah impian

Kemana N?

Pada suatu hari ia pamit
Puisi tumpah di dadanya
Ia telah temukan sepasang pijar
N pun mulai menepi

Dadah, N!
Seputaran waktu penaku jadi mampat
Kehilangan sesuatu bernama N
Imajiku ngadat layu tak berfungsi

Apa kabar,N?

LeBul: 14.01.2004

Wednesday, January 14, 2004

Ini Musim Kawin


Sekarang musim kawin. Seperti burung mereka bertengger sumringah di pelaminan. Kacamata yang dilepas sementara. Lensa kontak pendar indah di pupilnya.

Rukukukuuu!!

Lalu lagu "nungging ngeden, nungging ngeden ..." begitulah bunyi klenengan jawa kata temanku. "Titilono, titilono, ndang emplok'en ndang emplok'en"

Lalu ibu-ibu lain mulai teringat. Gadis-gadis mereka yang jomblo. Ada yang gelisah, ada yang biasa-biasa saja (aktingnya). Para ayah merenung: "Wah! mahalnya menikahkan anak kita!" Para bujang lelaki mulai memikirkan repotnya memenuhi permintaan keluarga para gadisnya. Dasar perempuan! Merepet sekaligus bermimpi para lelaki.

Dukun manten puasa. Gadis-gadis penerima tamu dipaksa bermekap. Konde gede-gede. Jalannya terancam nyungsep. Lelaki-lelaki jelalatan: "Pas, susunya!"

Itu pesta perkawinan. Pesta mendebarkan panitianya. Katering yang nggak bertanggung jawab. Kambing guling pesan tiga ekor kok cuma kelihatan senampanan saja? Musik yang terlalu ribut. Para tamu jadi sulit ngerumpi.

Anak-anak muda: "Bisa nggak ya, dapat pacar di pesta ini?"

Ini musim kawin. Mereka bilang yang jadi keluarga besar lebih repot ketimbang mempelainya. Kita mah cuma butuh akad saja. Modal sedikit lalu... Hehe, maaf. Ini cuma urusan berdua. Tapi tak ada yang bisa memungkiri, para mbah mungkin sakit hati kalau upacara tak dilaksanakan sedemikian rupa. Para ayah malu dianggap nggak mampu. Para ibu ingin mengenang masa lalu. Ladalah!

Haha!
Selamat kawin yang mau kawin. Semoga sukses saat akad, pesta dan seterusnya. Soale sempet ada yang setres karena mempelainya mau pingsan keberatan hiasan kepala. Setelah pesta jangan jadi layu. Masih banyak yang harus dikerjakan, bukan?

Kemudian kepada mantan pacar, mantan gebetan dan selingkuhan: "Mohon maaf lahir bathin. Doain selamet, lho!"

salam sayang: BuRuLi


## buat: para sodara dan sahabat yang mo kawin: tita, yuni, dan setiyo.
AKU MARAH! MARAH PADA DIRIKU SENDIRI!!

AKU TAHU KALAU AKU HARUS BERHENTI DAN BEGITULAH SEHARUSNYA!
DEMIKIANLAH AKU MENGERTI
DEMIKIANLAH AKU TAK DAPAT BERHENTI
LOGIKA YANG BERKHIANAT DI KEPALAKU
EMOSI MASIH DEMIKIAN SAKTI

AKU MASIH KALAH!
KALAH OLEH PERASAANKU SENDIRI!
AKU MARAH!
MARAH PADA DIRIKU SENDIRI!

(andai bisa kuludahi muka...)

Monday, January 12, 2004

Gaby? (1)

Lalu aku mengenangmu diam-diam. Mengemasmu rapih, menyimpan segala data dirimu diantara ribuan data lainnya. Namamu kutulis biru hampir hitam. Perpotongan warnaku dan warnamu? Entah. Sesungguhnya belum pernah kita bicara sampai pada lembaran warna kita masing-masing.

Aku adalah orang asing bagimu. Orang asing dalam arti yang sebenar-benarnya. Apakah kau tahu apa saja yang sanggup membuatku menangis? Tahukah kau siapa tigger dan elmo?

Aku bahkan tak pernah tahu nama ibu dan ayahmu kecuali marga yang mentereng di belakang namamu. Kau anak nomor berapa dari berapa bersaudara? Rokokmu apa?

Gila. Kadang-kadang kita sungguh mencintai kabut sedemikian rupa. Badai tak sanggup membuat kita membenci laut. Terbuat dari apakah sepotong benda bernama hati?

Takkan pernah ada penjelasan. Hormon selalu bergerak lebih cepat bahkan dibandingkan kilat. Waktu adalah debu dilipatan segala impian. Tak usah lagi kita bertanya. Demikian barangkali kita putuskan dalam diam.

Lalu engkau mengingsutkan aku dari ingatan. Demikian cepat kau sapu bersih segala kenang. Benarkah semuanya hanya sebuah kesalahan? Bagimu?

Gaby?

Saturday, January 10, 2004



Selamat malam!

Hari ini perempuan kelapa dilibat gaun tidur panjangnya. Merasa baru dan segar sekali. Sudah lama perempuan kelapa tidak bersemangat dan tidak mengerti bahkan pada sebentuk perasaannya sendiri. Sudah lama ia merasa segalanya berhenti pada satu titik dan seperti tak hendak bergerak lagi. Perempuan kelapa pernah merasa seperti perempuan mati. Mati dalam keadaan bernafas dan itu lebih buruk. Hendak kemana kau? tanya orang-orang. Perempuan kelapa diam. Ia belum bisa menjawabnya. Tidak sekarang. Belum saatnya. Jawaban itu masih menggantung di langit. Sekarang ia hanya merasakan semangat saja yang sudah mulai lagi panas baranya.

Hm!

Aku ingin menggeliat nikmat seperti ulat hendak menjadi kepompong hendak menjadi kupu-kupu! Merasakan kekosongan di padang luas selama ini ternyata menimbulkan kebosanan juga. Aku merindukan pertempuran ide pada sebuah sidang dimana aku bangga menepuk dada kemenangan atau mencaci maki penuh semangat pada apa yang tidak kusukai. Hidup sungguh bermakna ketika engkau bangun pagi dengan sebuah rencana jelas di kepala! Aku merindukan hari-hari itu. Merindukan ledakan obsesi di kepalaku. Merindukan impian yang meruah tumpah keluar dari kepala dan bersinar indah pada mata. Barangkali aku memang sedikit narsis. Tak pernah merasa buruk rupa di depan kaca kecuali bila kepalaku terasa hampa tanpa rencana-rencana. Sesungguhnya aku perempuan bombastis! Ha ha!

Hari ini aku selesai membaca sebuah buku. Kemarin aku sudah membaca bahkan dua kali buku yang sama. Tak ada satupun buku berbau akademis, jenis buku paling membosankan sedunia. Tapi aku merasa belajar banyak. Sebegitu aku merasa benci kuliah duduk tenang di bangku dan mendengarkan saja celoteh atau ceramah atau pidato atau apalah. Dan aku tidak pernah merasa lebih pintar sekeluar dari ruang kuliah, tapi aku yakin menjelma jenius setelah menghabiskan buku-buku "pelajaran itu". Aku pelajar jalanan. Kupikir itu benar. Aku akan menjadi sarjana tanpa sertifikat. Sejujurnya aku sedang berusaha berdamai dengan segala sistem ini hingga aku mau menjadi seorang mahasiswa lagi dan mengikatkan sedikit bagian diriku pada peraturan-peraturannya. Tapi aku memilih tempatku sendiri. Universitas terbuka. Ha ha!

Begitulah!

Begitulah aku bangkit kembali dari kuburku selama beberapa waktu. aku sempat mati suri, terbunuh oleh segala kesedihan yang sebetulnya hanyalah konsekuensi dari sebuah petualangan. Tapi aku tumbuh sedikit lebih berbeda dari sebelum keberangkatanku. Kupikir itu baik. Kalau kita memang merasa sudah saatnya berubah, kenapa tidak?

Bagaimana menurutmu? Apa kabar dirimu sendiri? =).

Sunday, May 18, 2003



Tik Tak Tik Tak Tik…
: Mr. C

Ada yg bertanya padaku, kenapa aku selalu bicara tentangmu pada puisiku. Kujawab karena aku sedang ada bersamamu dan barangkali sekarang hidup padamu. Disaat tak ada orang di tanah yang sama yang dapat kuajak bicara pada detik hatiku tumpah meruah, ada seseorang padamu, didadamu menjenguk ia keluar jendelanya dan menyapa : Hai! Katanya. Kita hidup di dunia khayal! Yap! Barangkali ia benar.

Apa mau dikata?

Kasihan kau!, kata seseorang kata ayah kata ibu kata sanak saudaraku kata orang –orang lalu lalang yang bahkan tak berhenti dan memandang mataku dan bertanya: Ada apa disana? Ada sepi, kataku. Ada sepi sesepi tanah yang kuinjak sendirian dibumi. Ada orang-orang yang menertawakan kesepianku juga kesepiannya sendiri. Ya, kasihan kita! Barangkali itu benar.

Apa mau dikata. Bila semu masih menjadi hukum disini. Mutlak. Harus. Segalanya serba setengah. Setengah kenal, setengah kawan, setengah kekasih…Tuhan!

Aku ingin bermain-main saja disini. Menemukan sesuatu kemudian membawanya pulang ke tanahku. Tanahku! Bumi yang sungguh dipijak dan bunga-bunga bermekaran di atasnya. Orang-orang berkasih-kasihan dan beranak pinak. Sungguh ada sesuatu yang bisa kau genggam kau peluk dan kau baui padanya. Hidup. Aku ingin membawanya keluar darimu dan membiarkannya tumbuh disini. Nyata diantara tanah air dan api.

O, ya. Kemarin telah kulemparkan cinta dan amarah dan kemudian yang kudapatkan hanyalah lelah sebab tanah elektronika tak pernah menjanjikan apa-apa bagi penghuninya. Ini adalah cerita kesekian ribu dari kesekian ribu pencatat sebelumnya. Sungguh kenangan akan duka dan ceria bisa kau cetakkan pada kertas lalu kau tempelkan pada langit-langit rumahmu. Baca. Dan renungkanlah sendiri. Olehmu.

Katanya!

(BuRuLi: Lebul, 15.02.03)


Sunday, March 09, 2003



Seharusnya Dialah Sang Lentera!

Ada sesuatu yang siap meledak seperti petasan dalam dadanya!
Gong Xi Fa Cai! O!
Bulan terang merah cerah dirasakannya buruk seperti manisan kadaluwarsa!
Ada airmata diantara tarian naga yang sedang dinikmatinya
Asap hio mengabut tak lagi menyiksa
O, cahaya! Cahaya!
Ada cinta yang mengintip sia-sia dibalik topeng singa!

(Hio itu masih menari, doapun mengasap wangi)

O, cinta?cinta?cinta!

(BuRuLi, LeBul: 28.01.03)





Thursday, February 27, 2003



Bila malam ini bulan setengah, mungkin lusa akan purnama!

Demikianlah kugali hariku. Sendirian. Sepi? Barangkali. Tapi selalu ada lubang untuk keluar dari himpitannya.

Kemarin kulihat bulan setengah di atas atap rumah. Lebih indah bulan sabit, kataku. Belajarlah bersyukur, katanya. Dia benar.

Hampir kukemasi barangku. Pergi. Pindah. Kemana? Entahlah. Waktu selalu menyisakan tanda tanya. Sebab aku sendirian? Barangkali. Tapi bukankah selalu ada cara? Ada yang selalu menyapamu dari dunianya!

Dunianya?
HAH!
Bukan duniaku!
Catat.
Dan aku tetap.

Demikianlah kugali hariku. Sendirian. Sepi? Memang. Tapi tak jadi kukemasi barangku. Aku akan tinggal. Sungguh? Ya. Sungguh. Dia memang benar.

Kemarin kulihat bulan setengah di atas atap rumah. Malam ini tiga perempat. Berarti besok purnama! Aku akan tinggal lebih lama.

(BuRuLi, LeBul: 03.02.03)


Ini aku, sedang bercinta dengan sepi!

Kesepian membuat jariku, hatiku, jiwaku, ragaku, semuanya menari pada papan-papan kunci bersatu dalam irama riuh seperti pesta pedih sendirian

Tangis dan tawa bercampur segala kenang segala harap segala godaan dan cobaan berbaur berlompatan sebagai baris-baris yang memekakkan

Sekali lagi,
Telingaku sendirian…

Kemudian kubisikkan keluhku pada dawai-dawai mati yang teronggok disudut ruangan…O, aku merindukanmu!

Triiing!
Ting…ting…ting…jreng!
Rat tap tap!

Habis irama lelah kuketuk keduanya
Bila bisa menjeritlah ia terjambakku, terpukulku, teremas terempas-empas emosiku ganas
JDUG!
Oh…

Begitulah!
Tak lagi kau miliki harmoni
Lelah mencampakkanmu dari simponi
Blues!
Begitulah terbakar jari!


(BuRuLi: LeBul: 14.02.2003)


Maafkan aku, Heliana!

Kan kuganti paru-paruku juga wajahku demi engkau, Heliana! Seumpama diizinkan Dia kan kulakukan segera semuanya untuk kita! Maka takkan ada lagi wajahmu penuh tanya dan desah nafasmu panjang harapkan adaku disana...

: “Kenapa?!”

Ya,
Segenap tanya yang mengendap dalam kepalaku juga

: “Kenapa...”

Kenapa udara enggan melesak dalam dada hingga harus kutinggalkan engkau meronta dalam singgasana sendirian, engkau adalah raja yang terjepit sebab harus selalu mengampuni aku...

Aku tahu, Heliana...mereka telah mulai memojokkan kita! Sebab aku adalah setan yang kau bolehkan datang dan pergi sekapan suka sebanyak udara yang dapat mengembangkan sayapku kesana!

Maka maafkanlah aku, Heliana!
Telah kupaksa engkau menjadi manusia lebih daripada hanya seorang raja!

(bungarumputliar, LeBul: 22.11.2002)


Monday, February 24, 2003



Puding Di Kepalaku


Ide-ide yang meluap telah meruah tumpah!
Dari kepalaku yang isinya seperti puding coklat legit meluncur potongan-potongan yang lengket seperti sirup rasa jeruk di lantai taman kanak-kanak
Puding dan sirup yang manis dan enak
Tapi bayangkan bila letaknya di telapak kakimu…



Ada kalanya kanak-kanak lebih pandai menyelesaikan masalah seperti ketika ia bermain dengan alat rias di kamar tidur ibunya saat jam-jam si ibu bekerja dan ia tidur siang. Begitulah ibu begitulah ia. Apa yang kau takutkan? Bilang saja kalau dia ingin cantik seperti ibu! Ia percaya. Sangat percaya: Ibu mencintainya!



Tapi puding coklat di kepalaku terancam kembali mencair. Mambutuhkan lemari pembeku untuk memepertahankannya dari panas yang melanda. Apa boleh buat. Katakan padaku: Apakah masih bisa kita percaya seperti anak pada ibunya?



Ada waktu-waktu dimana engkau begitu malas membagikan puding enak dari kepalamu itu. Begitupun aku. Kadang-kadang kupikir harus kusimpan sebagian besarnya untuk cadangan makan malam. Bukan diet yang sehat, memang. Tapi sekali lagi semuanya memang bergantung kepada keadaan. Kita bukan kanak-kanak yang makan, mandi dan tidur secara teratur sebab jasa ibu dan bibi pengasuh.



Tentang puding coklat dikepalaku, hari ini aku membuat fla yang barangkali lebih enak dari hari kemarin. Ada resep baru dan aku sedang mencobanya . Lebih bergizi dan dibuat dari bahan-bahan yang lebih terpilih. Mau mencicipi? Sebentar. Setengah jam lagi!



(BuRuLi: Lebul, 24.02.03)





: Senin Pagi


Lalu kubayangkan engkau duduk dalam gerbong kereta
Sendirian
Menghadap jendela setengah pecah
Kemarin ketika ada batu dilemparkan padanya kaupikir dirimulah sasaran tembakya
Padahal, t i d a k !
Mereka sedang lempari kesedihan mereka sendiri
Frustasi pada diri, lantas melukai
Dan...
Hei, katakan padaku!
Apakah engkau mengingatku?
Saat kau pandangi ladang kering dengan kebau di atasnya?
Demikianlah harum rumput yang pernah kau endus dariku yang tiba-tiba menghilang dan kau rindu. Kau tanya aku sore itu: Sudah tak wangi lagi? Ingin kusimpan jari agar tak usah kau ciumi lagi : sudah kering! kataku.



Lalu kubayangkan engkau duduk berhadapan dengan seorang wanita. Cantik. Muda. Sendirian. Susah payah kau ingatkan diri bagaimana caramu telah pergi dan kemana engkau akan. Maka kerling dan sapa yang kau simpan sebagai pusaka itu kau timang di hadapannya. Belai kau simpan rapat dalam kotaknya. Sebab belai adalah milik kota tujuan kalian berdua. Sekian jam dari Jakarta? barangkali. Tapi apa guna bibir bila tidak untuk tersenyum dan mencium? engkau tak suka menyanyi katamu. sudahlah. Biarkan orang melakukannya untukmu.



Lalu kubayangkan engkau turun dari kereta. Hati yang telah kembali utuh. Tak ada apa-apa di Jakarta! yakinmu. Jakarta adalah bayangan. Bahu-bahu yang bergoyang. Rambut-rambut panjang menawan dan kaki-kaki yang indah. Tapi sekian jam dari Jakarta adalah harapan berikutnya. Tak akan ada yang berubah! katamu waktu itu. Ya. Dan aku tak percaya. Hanya akan ada sekantong penuh tanggung jawab besar katamu dan itu cukup untuk membuntukanmu! kataku. Teriakku. Tangisku. Entah.



Aku merasa aneh. Pada diriku sendiri. Perasaan iri kepada cinderella di kotamu. Cinderella yang telah kau temukan sepatu kacanya. Cinderella yang memenangkan sayembara. Sesungguhnya aku tak pernah tahu apakah engkau sungguh duduk di kereta ataukah sebuah bis antarkota. Hanya saja engkau pergi. Sudah. Begitu saja. Selembar surat terselip di engsel jendela: " jangan menulis puisi sedih! " Aku berjanji. Maaf! Hanya bisa kutepati untuk satu hari.



(BuRuLi: LeBul, 24.42.03)




Saturday, February 22, 2003



Blues Para Hantu

Buzz!
Siapa namamu?
Bungarumputliar! Jawabku.
Kenapa bungarumputliar?
Kenapa tidak?

Tiketaketik! Detik dan menit kemudian jam. Sendirian? Tidak juga. Ada seseorang diseberang sana, dibalik layar kaca. Kubayangkan ia tinggi, lebih tinggi dari aku. Barangkali aku hanya sebahu. Asik. Aku tersenyum. Entah dia. Aku perempuan. Kamu laki-laki?

Aku laki-laki! Katanya.
Aku tersenyum lagi. Sudah kuduga. Nada-nadanya yang setengah itu. Blues. Milik laki-laki.

Kamu laki-laki juga? Tanyanya tiba-tiba.
Aku tertawa. Barangkali dia tidak. Barangkali dia kecewa meskipun aku tidak. Sebab aku sungguh-sungguh perempuan dan katanya dia sungguh-sungguh laki-laki. Sudahlah. Kalau dia tidak percaya juga tidak apa-apa. Bukan salah dia. Bukan salah siapa-siapa. Dan aku siap dengan padam sumringah kuningnya. Wajar. Boleh dan sah. Aku menarik nafas. Barangkali dia juga.

Blues. Nada-nada yang setengah terengah. Malam yang sesungguhnya sepi ramai pada layar. Ketakketik tawa. Ada gambar senyum disana. Ada ciuman. Untukku? Juga peluk itu? Benar, untukku? O.

Kamu tinggal dimana? Tanyanya.
Disini. Kota ini juga! Jawabku.
Kamu?
Ya. Sama. Mau bertemu?

Blues. Biru. Ada saat ia memekikkan sayat impiannya. Ada ada dengan ini semua? Salah? Tidak. Dia siapa? Entahlah. Rupa-rupa gambar pada kepala. Putih. Hitam. Ceria atau duka. Luka atau suka. Aku siap. Entah dia.

(BuRuLi : LeBul, 020203)


Sebuah kota bernama : B

B adalah sebuah kota
Hujan mengguyuri basah
Mereka
Laki-laki
Dan perempuan
Orang-orang yang bercinta
Dalam hutan kotanya
Merana

(BuRuLi, 03.12.2002)

Saturday, February 15, 2003



Pada Sebuah Dada Hampa

Sepi itu mengingsut seperti ulat dalam dagingnya yang berdarah
Memekik-mekik memilukan sekaligus menjijikkan
Digerogotinya sel demi sel dan ditinggalkannya tinja disana
UHG!

(bungarumputliar, LeBul: 25 Nov 2002)


Itu Singgasana Palsu!

Demikianlah waktu
Telah diajarkan padamu dan aku
Orang-orang yang datang dan pergi dari hidupmu
Orang-orang yang menawarkan kehidupan lalu kematian padamu

Demikianlah sejumput rasa sunyi
Menahan diri dan hati sendiri
Menyimpan cinta dalam lemari kaca
Pandanglah dari jauh dan jangan kau sentuh dia

Tegak!
Busungkan dadamu dan banggalah dirimu
Jangan menadah cinta bersalut kenang
Jadilah dirimu sendiri dan menang!

Orang-orang yang datang dan pergi dari hidupmu
Orang-orang yang menawarkan kehidupan lalu kematian padamu
Diletakkannya engkau kedua setelah kenang
Dilukainya engkau dengan tenang

: “Jangan khawatir, kenangan adalah kenangan adalah kenangan adalah....”

Itu
Singgasana palsu!

(BuRuLi, belajar hidup lagi! LeBul: 13.12.02)


Raung, kuceritakan ini padamu !

Raung!
Aku tak takut.
Aku tahu apa yang aku kerjakan
Setajam apa Gigi setajam apa Lidah!
Aku tak takut, Raung!
Aku tahu apa yang aku kerjakan.

Sebab telah kukatakan pada diriku sendiri
: “Aku tak suka Duri! Aku tak suka Duri!”
Duri mendengarku
Duri berteriak menangis sedu
“Kau kejam!” katanya.
Biar.
Biar saja.

Dengar, Raung...
Lebih kejam lagi aku
Bila tak jujur pada Hatiku

(BuRuLi, LeBul: 14.12.02)